{"id":1099,"date":"2012-09-25T07:57:58","date_gmt":"2012-09-25T07:57:58","guid":{"rendered":"http:\/\/mitrahukum.org\/?p=1099"},"modified":"2019-12-05T10:39:47","modified_gmt":"2019-12-05T03:39:47","slug":"menggagas-peran-universitas-dalam-pengembangan-ilmu-dan-budaya-demi-kemaslahatan-kehidupan-masyarakat-bangsa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mitrahukum.org\/en\/menggagas-peran-universitas-dalam-pengembangan-ilmu-dan-budaya-demi-kemaslahatan-kehidupan-masyarakat-bangsa\/","title":{"rendered":"Menggagas Peran Universitas dalam Pengembangan Ilmu dan Budaya Demi Kemaslahatan Kehidupan Masyarakat Bangsa"},"content":{"rendered":"<div align=\"justify\">\n<p>Ada dua ihwal utama yang harus dibicarakan dan dijelaskan dahulu sebelum apa yang disebutkan dalam tersebut di atas didiskusikan.\u00a0 Yang pertama, apakah universitas itu, dan apa pula perannya dalam kehidupan dan peradaban manusia.\u00a0 Yang kedua ialah, apakah yang disebut budaya bangsa itu, ialah budaya yang harus dikembangkan demi kelanjutan eksistensi manusia sebangsa di permukaan bumi ini.<\/p>\n<p><strong>Universitas : Sejarah Perkembangannya<\/strong><\/p>\n<p>Apakah universitas itu?\u00a0 Universitas adalah suatu institusi dalam kehidupan manusia, yang dikenali sebagai pusat aktivitas pencarian dan penemuan pengetahuan tentang berbagai keniscayaan faktual dan kausal yang berlakunya secara total akan tersimak sebagai tertib alam semesta.\u00a0 Tertib alam semesta inilah yang di dalam bahasa asing disebut <em>universal order <\/em>atau<em> universum<\/em>.\u00a0 Tetapi kata \u2018universitas\u2019 ini sebenarnya tidak berasal dari kata \u2018<em>universum\u2019<\/em> itu, melainkan pertama-tama menurut riwayatnya berasal dari kata istilah Latin \u2018<em>universitas magistro-rum et scholarium<\/em>\u2019, yang berterjemah \u2018komunitas para guru dan para ilmuwan\u2019.<\/p>\n<p>Bagaimana riwayat perkembangannya?\u00a0 Dalam catatan sejarah, institusi tempat berhim-punnya para <em>magistrorum<\/em> &#8212; yang sekaligus juga dikenali sebagai <em>scholarium <\/em>\u2013 sebenarnya sudah beriwayat lama.\u00a0 Tetapi, sebagai institusi modern, apa yang disebut universitas ini baru dikenal pada dan tumbuhkembang sejak sekitar abad 14, bersejaman dengan mulai terjadinya pergeseran paradigma dalam cara berpikir para pemikir dan para pencari kebenaran.\u00a0 Paradigma falsafati yang baru ini percaya bahwa pengetahuan yang benar itu hanya dapat diperoleh melalui usaha manusia yang berpancaindra tetapi juga yang berpenalaran.\u00a0 Paradigma seperti ini menanggalkan dan meninggalkan paradigma sebelumnya yang meyakini bahwa kebenaran hanya ada dalam khazanah pengetahuan Tuhan, dan hanya bisa menjadi bagian daripengetahuan manusia manakala telah diturunkan dari \u201clangit\u201d dan dikabarkan lewat para rasul dan nabi.<\/p>\n<p>Menurut para penganut paradigma ilmiah yang baru ini, yang kelak dinamakan \u2018para saintis\u2019, pengetahuan yang benar tentang <em>universum <\/em>ini sesungguhnya tidaklah berada dalam kitab-kitab yang tersimpan di biara-biara para pendeta, melainkan tergelar di tengah alam indrawi yang bisa didimak nyata secara langsung.\u00a0 Alam yang tergelar adalah wahyu fenomenal yang dapat disimak langsung bersaranakan indra manusia, yang kemudian dapat disimpulkan oleh nalar manusia, yang pada akhirnya akan menghasilkan pengetahuan yang dinyatakan masuk akal dan dapat diterima akal, yang oleh sebab itu boleh dikualifikasi sebagai pengetahuan yang benar.<\/p>\n<p>Sir Isaac Newton (1643-1727) adalah representasi seorang <em>scholarium <\/em>yang bekerja dengan \u201cmembuka mata\u201d untuk melihat alam yang tergelar, untuk kemudian \u201cmembuka akal pikiran\u201d dengan sikapnya yang skeptik, yang bernaluri selalu ingin tahu dan selalu ingin bertanya dan mempertanyakan: Mengapa?\u00a0 Apa betul begitu?\u00a0 Mana buktinya?\u00a0 Tatkala Newton melihat sebuah apel masak jatuh dari batang pohon, pikiran rasionalnya yang skeptic menyeruak ke depan untuk bertanya : mengapa jatuh ke tanah dan tidak jatuh ke langit.\u00a0 Apa gerangan yang menyebabkan?\u00a0 Kalau apel yang lepas dari ranting jatuh ke bumi, mengapa bulan tidak jatuh ke bumi?\u00a0 Mengapa?<\/p>\n<p>Rangkaian pertanyaan berawalan kata \u2018mengapa\u2019 &#8212; yang seolah hendak mencabar keyakinan-keyakinan lama yang irasional &#8212; inilah yang kemudian menjadi ciri khas kepribadian kaum <em>scholarium <\/em>yang banyak di antaranya menyatu untuk membentuk komunitas universitas, dan sekalian bertindak sebagai <em>magistrotum <\/em>untuk mengajarkan buah gagasannya ke murid-murid pewarisnya.\u00a0 Tak pelak lagi, universitas lalu berkembang sebagai pusat pencarian (<em>search<\/em>, <em>research<\/em>) pengetahuan baru, bersaranakan penginderaan dan penalaran yang mandiri.\u00a0 Kerja penginderaan \u00a0menghasilkan \u2018pemerian\u2019 (diskripsi) tentang \u2018apa\u2019, sedangkan kerja penalaran akan menghasilkan \u2018penjelasan tentang apa yang boleh dipastikan akan menyebabkan apa\u2019 (eksplanasi).\u00a0 Di sini hasil penginderaan dinalar kebenarannya secara induktif, dan sebaliknya hasil penalaran akan diuji dengan hasil penginderaan secara deduktif.<\/p>\n<p>Demikian itu kisah lahir dan berkembangnya universitas-universitas di negeri-negeri\u00a0 Eropa kawasan Katolik Barat, pertama-tama sebagai pusat riset untuk mengungkap misteri alam semesta, (<em>nota bene <\/em>alam semesta yang secara indrawi tertampak kisruh dan acak, namun yang melalui penalaran manusia yang rasional dapat dijelaskan sebagai suatu tertib kausal yang berkeniscayaan tinggi dan yang oleh sebab itu dapat diprediksi).\u00a0 Pada tahap berikutnya, temuan-temuan mengenai berbagai pengetahuan tentang keniscayaan yang dapat diprediksi ini, yang acap disebut teori atau dalil ini, akan memberikan kuasa kepada para praktisi untuk mengontrol variabel sebab guna menghasilkan variabel akibat.<\/p>\n<p>Di sini, dengan sekali langkah, ilmu pengetahuan (<em>science <\/em>&gt; sains) yang ditemukan melalui pencarian (<em>search and research<\/em>) telah bisa menjadi teknon &gt; teknologi.\u00a0 Apabila \u201c<em>researcher\/<\/em>pencari\u201d (yang di Indonesia secara salah kaprah sering disebut \u2018peneliti\u2019) telah berhasil menemukan pengetahuan tentang \u2018apa\u2019 yang menyebabkan \u2018apa\u2019, maka dengan mengontrol dan\/atau memanipulasi \u2018apa yang tersebut pertama\u2019 orang akan dapat memprediksi yang akan terjadi dengan \u2018apa yang tersebut kedua\u2019, dan kemudian daripada itu juga akan punya kuasa untuk mengontrolnya guna tujuan-tujuan yang produktif.\u00a0 Benarlah apa yang dikatakan orang Perancis, <em>savoir est pr\u00e9voir, et pr\u00e9voir est pouvoir<\/em>\u00a0 (= siapa yang mengetahui akan bisa memprediksi dan siapa yang bisa memprediksi akan punya kuasa untuk mengontrol).<\/p>\n<p><strong>Universitas, Sains dan Teknologi<\/strong><\/p>\n<p>Sesungguhnya peran para <em>scholaria <\/em>(bentuk jamak dari <em>scholarium<\/em>) itu bukan pertama-tama sebagai pendayaguna sains hasil temuannya.\u00a0 Mereka bukan teknolog, terlebih-lebih lagi mereka bukanlah manusia-manusia yang sejak awalnya memang berkepribadian manusia pencinta dan pemuas kebutuhan duniawi. \u00a0Menilik sejarahnya, para <em>scholaria <\/em>ini boleh dibilang tergolong penerus para biarawan yang hidup di biara-biara (berasal dari\u00a0 bahasa Sanskerta<em> vihara<\/em> atau yang disebut <em>monastery <\/em>dalam bahasa Inggris, yang pada gilirannya berasal dari istilah kuno <em>monast\u0113rion<\/em>), yang bekerja untuk mengajarkan moral dan filsafat hidup yang bersumber pada ajaran Tuhan.\u00a0 Hanya saja, manakala para biarawan ini umumnya tinggal menetap di biara-biara, para scholaria ini semula hidup berkelana untuk melalukan kerja risetnya dan mengajarkan temuan-temuannya kepada para peminat.\u00a0 Baru kemudian mereka menetap di perkampungan yang sampaikini terkenal dengan sebutan \u2018kampus\u2019.<\/p>\n<p>Sebagai guru yang mendakwahkan ilmu, ada perbedaan menegnai konten yang diajrkan di biara dan apa yang diajarkan di kampus.\u00a0 Para biarawan mengajarkan ilmu yang berhakikat sebagai moral dan kearifan untuk tuntunan hidup sebagaimana yang bersumber pada ajaran Tuhan yang diturunkan lewat para rasulNya.\u00a0 Sementara itu para <em>scholaria <\/em>mengajarkan temuan-temuannya tentang rahasia alam semesta dan seterusnya juga tentang bagaimana <em>techne<\/em> untuk mengontrol dan memanipilasinya untuk kepentingan kemanusiaan.\u00a0 Apabila para biarawan mencari dalam renungannya untuk menemukan \u2018apa yang baik (etis) dan apa yang indah \u00a0(estetis)\u2019 dan kemudian mengajarkannya, para <em>scholaria et magistroria<\/em> bekerja dengan segenap indra dan akal pikirannya untuk menemukan \u2018apa yang sebetulnya terjadi (diskripsi) dan apa yang sebetulnya merupakan sebab yang akan menyebabkan terjadinya akibat (eksplanasi)\u2019\u00a0 dengan paparn dan penjelasan yang betul-betul masuk akal (logis).<\/p>\n<p>Berbeda paradgma dalam cara berpikir dan bekerja, pada masa-masa yang lalu di negeri-negeri asalnya, biara dan kampus tidak selamanya bisa bersinergi, bahkan acapkali saling mencurigai dan menuduh untuk berebut pengaruh pada anak-anak generasi muda.\u00a0 Budaya manusia terbelah seperti hendak saling mematikan laiknya.\u00a0 Ilmu pengetahuan (sains) yang mendedikasikan diri untuk mengembangkan kebutuhan ragawi dan duniawi dengan segala daya ciptanya pada akhirnya tak hanya menyandingi melainkan juga kian membandingi dan menandingi ilmu (humaniora) yang mendedikasikan diri untuk memenuhi kebutuhan rohani dan akhirati umat dengan segala daya karsa dan rasanya.<\/p>\n<p>Selewatnya masa renesans, temuan-temuan universitas \u2013 khususnya di bidang fisika dan kimia &#8212; kian bernilai teknologik dan kian bernilai produktif dengan hasil-hasil yang banyak didayagunakan oleh para penguasa negara.\u00a0 Semua itu berlangsung\u00a0 seiring dengan tumbuh-kembangnya negara-negara nasional di Eropa Barat yang pada waktu itu tengah berlomba meningkatkan kekuatan finasial, industrial\u00a0 dan militernya.\u00a0 Tak pelak lagi, sejak saat itu banyak universitas di\u2019\u2019kooptasi\u2019 dan \u00a0dihidupi\u00a0 oleh penguasa negara dan para scholaria beserta murid-muridnya yang magang kian lama kian terkesan hanya siap bekerja untuk kepentingan negara dan yterkadang bahkan untuk kepentingan para raja penguasa secarapribadi.<\/p>\n<p>Keseimbangan antara kebebasan ilmiah dan komitmennya sebagai pengabdi pada kepentingan penguasa nasional memang menjadi persoalan yang pelik sejak lama.\u00a0 Sebagai pengkaji ia ingin bekerja bebas, sebagai pencari kebenaran yang tak punya majikan dan tidak menjadi majikan.\u00a0 Namun, ironinya, sebagai manusia gajian ia harus melayani apa yang diminta oleh para penguasa yang menghidupinya.\u00a0 Etika profesi dan etika ilmiah benar-benar diuji di sini, sesuatu isyu yang sebenarnya pada mulanya tidak banyak menjadi pemikiran di kalangan para pekerja sains.\u00a0 Baru kemudian, ketika persoalannya menjadi kian kritis, kesadaran untuk mempersenyawakan\u00a0 disiplin ajaran biara yang serba etis dan disiplin kerja universitas yang serba logis, tatkala harus menghadapi kekuasaan para elit politik dan elite industri, segera saja menjadi kenyataan.\u00a0 Tanpa etika, ilmu pengetahuan akan menjadi monster; dan di lain pihak, etika tanpa bantuan ilmu pengetahuan hanya akan bagaikan \u201cmalaikat tak bersayap\u201d.<\/p>\n<p><strong>Universitas di Negeri Berkembang<\/strong><\/p>\n<p>Universitas adalah suatu institusi Eropa yang dikenal di negeri-negeri berkembang, semisal Indonesia, berkat perkenalannya dengan bangsa-bangsa Barat penjajahnya.\u00a0 Karena tidak tumbuhkembang sebagai bagian dari budaya bangsa sendiri, maka bisa saja yang tertiru hanya struktur dan seremoni formalnya sedangkan tradisi dan moralnya tak begiru saja bisa diresapi sebagai bagian dari budaya sendiri.\u00a0 Sebenarnya bukan pula maksud para penguasa kolonial itu untuk mentransplantasi universitas secara total sebagai universitas dalam arti sebenarnya, ialah sebagai\u00a0 suatu komunitas <em>scholarium<\/em> dan <em>magistrorum<\/em> seperti yang dikenal di Barat.\u00a0\u00a0 Mengambil contoh Indonesia, yang ditransfer ke Indonesia sebenarnya pada waktu yang lalu \u201chanyalah\u201d sekolah-sekolah tinggi kejuruan (<em>opleiding school<\/em>) untuk memproduksi lulusan-lulusan yang bisa dipekerjakan sebagai punggawa pemerintah kolonial.<\/p>\n<p>Syahdan kalaupun kemudian pada masa pasca-kolonial bukan sekolah tinggi yang diupayakan berdirinya, melainkan universitas, misi tanpa visi yang lama masih saja diteruskan.\u00a0 Universitas didirikan, namun begitu pada kenyataannya yang disebut universitas itu cuma merupakan himpunan fakultas yang masing-masing bekerja tak beda dengan kerja sekolah tinggi, ialah untuk memproduksi lulusan-lulusan yang maunya di\u201clink-and-match\u201dkan dengan dunia kerja.\u00a0 Di negeri berkembang yang dibangun di atas puing-puing kolonialisme, tidak segera ditemui adanya usaha yang sistematis untuk membangun dan membina suatu generasi <em>scholaria <\/em>yang juga bersedia berkomitmen sebagai <em>magistroria<\/em>.\u00a0 Yang acapkali terlihat justru banyak berbiaknya \u00a0apa yang pernah disindirkan pada ketika Daud Jusuf menjabat Menteri Pendidikan, yaitu dosen-dosen asongan yang tak produktif, yang kurang gairah sebagai penemu pengetahuan dan teori baru, tetapi sungguh bersemangat untuk bersaing memperebutkan jabatan struktural atau jabatan di proyek-proyek.<\/p>\n<p>Manakala memang dikehendaki tertingkatnya fungsi universitas, tidak hanya sebagai kumpulan individu yang berperan sebagai penerus ajaran-ajaran orang lain dari generasi terdahulu ke generasi berikutnya, semacam pelari estafet yang ingin segera menyelesaikan tugasnya dengan cara menyerahkan tongkat kuno \u201cyang itu-itu saja\u201d dari pelari sebelumnya ke pelari berikutnya.\u00a0 Secara serius haruslah disiapkan, kalaupun belum bisa dilaksanakan dengan segera saat ini, sejumlah upaya yang diprioritaskan untuk membukakan peluang bagi anak-anak muda untuk mengembangkan diri menjadi <em>scholaria <\/em>yang handal dalam soal keilmuan.\u00a0 Kemudian daripada itu, amat pula diharapkan <em>scholaria <\/em>muda ini menjadi\u00a0 <em>magistroria \u00a0<\/em>yang mampu mendidik murid-muridnya untuk selalu tahu menjaga kepribadiannya yang mandiri, dan selalu sadar akan harga diri dan martabatnya, dan tidak terjerumus terlalu jauh menjadi oknum-oknum pengasong yang sedia menghamba untuk beroleh imbalan.<\/p>\n<p>Tanpa diisi sepasukan <em>scholaria <\/em>dan <em>magistroria <\/em>yang berkualitas seperti yang disebutkan di muka, tidaklah universitas-universitas di negeri ini akan mampu melaksanakan perannya sebagai universitas dalam makna yang sesungguhnya.\u00a0 Tanpa hadirnya <em>scholaria\u00a0 <\/em>yang berkeahlian dan beretika, dan alih-alih hanya diisi oleh PNS-PNS pemburu rente, tidaklah universitas-universitas di negeri ini akan memenuhi perannya yang berjangka panjang sebagai institusi yang menjanjikan kemaslahatan bagi masyarakat dan bangsa.\u00a0 Jalan mungkin masih jauh, tetapi langkah pertama haruslah segera diambil.<\/p>\n<p><em>Soetandyo Wignjosoebroto<\/em><\/p>\n<p><em>Gurubesar Emeritus pada Universitas Airlangga<\/em><\/p>\n<p>Sumber : http:\/\/soetandyo.wordpress.com\/\u00a0\u00a0 <em>\u00a0<\/em><\/p>\n<\/div>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ada dua ihwal utama yang harus dibicarakan dan dijelaskan dahulu sebelum apa yang disebutkan dalam tersebut di atas didiskusikan.\u00a0 Yang pertama, apakah universitas itu, dan apa pula perannya dalam kehidupan dan peradaban manusia.\u00a0 Yang kedua ialah, apakah yang disebut budaya bangsa itu, ialah budaya yang harus dikembangkan demi kelanjutan eksistensi manusia sebangsa di permukaan bumi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":2514,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_themeisle_gutenberg_block_has_review":false,"footnotes":""},"categories":[8],"tags":[],"class_list":["post-1099","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-opini"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mitrahukum.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1099","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mitrahukum.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mitrahukum.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mitrahukum.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mitrahukum.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1099"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/mitrahukum.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1099\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2516,"href":"https:\/\/mitrahukum.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1099\/revisions\/2516"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mitrahukum.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2514"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mitrahukum.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1099"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mitrahukum.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1099"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mitrahukum.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1099"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}